Pernyataan Kepala Puskesmas Bantilang Menuai Kecaman Keluarga Pasien

Viewer : 1079 Kali
Drs. Irwan, kakak kandung almarhumah
Drs. Irwan, kakak kandung almarhumah

Bantilang_Towuti, Libasnews.co.id-

Keluarga pasien asal desa Bantilang, kecamatan Towuti yang meninggal dunia dan dinyatakan berstatus PDP Covid-19, mendapat reaksi keras dari keluarga pasien.
Pernyataan tersebut disampaikan Drs. Irwan, yang merupakan kakak kandung almarhumah, Senin, 13/07/2020.
Pihak keluarga almarhumah mengaku tidak terima pernyataan kepala puskesmas Bantilang yang berkomentar melalui media dengan menyebutkan adiknya sebagai salah satu pasien yang sedang dalam pengawas (PDP) Covid-19, sedangkan pihak keluarga belum menerima hasil tes tersebut.
Menurut kakak kandung Almarhumah, pada saat datang ke Puskesmas, kondisi adiknya sedang Demam, bengkak pada perut dan kaki, kemudian pendengarannya juga menurun serta kulit berwarna kekuningan.
Saat itu, lanjut kakak Almarhumah, pihak puskesmas Bantilang merujuk almarhumah ke RSUD I Lagaligo untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Karena diperlakukan layaknya pasien Covid-19, serta akan ditempatkan didalam ruang isolasi, almarhumah akhirnya minta dikeluarkan.
“Memang benar pada hari rabu, 8/7/2020, adik saya dirujuk ke RSUD I Lagaligo Wotu oleh Puskesmas Bantilang. Namun hari itu juga adik saya meminta keluar karena Almarhumah tidak bersedia dirawat diruangan Isolasi pasien covid ,” terang kakak almarhumah.
Keluarga almarhumah pun mempertanyakan sikap profesionalisme kepala puskesmas Bantilang yang dinilai terlalu “bernafsu” memvonis pasien.
“Saat baca komentar kepala puskesmas dimedia, kami dan keluarga kaget. Soalnya kepala puskesmas kayaknya terlalu bernafsu mau kubur almarhumah pakai standar Corona. Ada apa sebenarnya,” tutur keluarga almarhumah heran.
Lebih lanjut keluarga almarhumah mengaku heran terhadap pernyataan kepala puskesmas Bantilang yang menjadikan status “reaktif” yang disematkan pada almarhumah sebagai jalan untuk melakukan “screening keluarga”.
“Kalau mereka memang profesional, seharusnya saat almarhumah dinyatakan reaktif, mereka langsung melakukan tes swab,” tambah Irwan.
“Kenapa setelah almarhumah meninggal, baru mau dijadikan jalan untuk screening,” tanyanya.
Selaku kakak kandung almarhumah, dirinya merasa sangat sedih sekaligus kecewa atas pernyataan dan perlakuan kepala puskesmas Bantilang yang dinilainya tidak profesional dalam menjalankan tugasnya, terkhusus dalam penanganan pasien yang dinyatakan reaktif.
“Saya tidak terima pernyataan kapus Bantilang yang terkesan memaksakan status adik saya sebagai pasien dalam pengawasam,” lanjutnya kesal.
Hal lain yang menjadi sorotan keluarga almarhumah yakni pernyataan Masdin, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Luwu Timur yang terkesan mengamini pernyataan dan sikap kepala puskesmas Bantilang.
Irwan pun mempertanyakan kapasitas keilmuan dan pengetahuan oknum Tim TGTPP Covid-19 Luwu Timur tersebut, khususnya dalam kasus almarhumah Ny. N.
“Janganki asal bicara bos. Kalau tidak kita ketahui betul tidaknya informasi yang kita dapat,” tutur Irwan kesal.
Salah satu keluarga almarhumah bahkan menantang Masdin untuk membuka data hasil tes semua pasien yang saat ini dinyatakan positif oleh Tim Gugus.
“Coba kade bukaki semua itu data orang yang dinyatakan positif, termasuk sumber hasil tes itu. Tapi ingatki, jangan hanya dibilang saja. Karena kalau cuma disebut angka, semua orang bisaji sebut,” tantang salah satu keluarga almarhumah.
Untuk diketahui, almarhumah diperiksa di puskesmas Bantilang, rabu, 8/7/2020, dan meninggal dunia pada Sabtu, 11/07/2020, siang sekira pukul 15.00 Wita. (Jumar S)

ARTIKEL TERKAIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *