Desa Manyo’e “Tertinggal”, Direktur LSM JARI Indonesia Desak Pemerintah Peduli

Viewer : 167 Kali
Sinton Pasimbo, Kepala Desa Manyo'e.
Andi Samsu Alam, Direktur LSM Jari Indonesia

Morut, Sulteng, – LibasNews.co.id –

Manyo’e merupakan salah satu wilayah Desa Tertinggal dan terletak didaerah dataran tinggi yang berjarak 64Km dari Ibu Kota Kecamatan Mamosolato, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah (Sulteng).

Selain jaraknya yang terbilang jauh, jalan menuju ke Desa tersebut masih sangat sulit ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Menurut keterangan sejumlah warga yang bermukim di desa tersebut saat ditemui crew Libasnews.co.id, bahwa salah satu yang menjadi penyebab keterbelakangan daerah itu, adalah Akses Jalan.

“Bisa dibayangkan pak, Daerah kami berjarak 64Km dari Ibukota kecamatan mamosolato. Jarak 24Km dari Lijo ke Manyo’e belum bisa dilalui kendaraan bermotor, “tuturNya.

Kepala Desa Manyo’e, Sinton Pasimbo, dihubungi via phon selluler, membenarkan pernyataan warganya terkait kondisi jalan itu.

“Iya itu sangat benar pak. Kami berharap hal ini bisa mendapat perhatian khusus. Bisa dibayangkan pak, kalau kita membawa barang, naik ojek, hitungan per kg 9.000 rupiah, “terang Sinton.

Disisi lain, Sinton menguraikan lebih jauh, terkait kondisi sosial Desa Manyo’e itu permasalahan bukan hanya akses jalan saja.

Hal yang dimaksudkan adalah, kurangnya perhatian pemerintah atas kondisi lembaga pendidikan, Kesehatan, dan permodalan usaha.

Dibidang pendidikan, Kata Sinton, “Guru yang mengajar di SD, hanya tamatan SMU tanpa memiliki keterampilan khusus dibidang pengajaran. Di SMP itu, yang mengajar Guru SD juga, Akibatnya kualitas pendidikan kian merosot, “kataNya

Dibidang Kesehatan, Lanjut Sinton, “Bisa dibayangkan pak, di Desa Padang Lempe itu, ada 78 Kepala keluarga disitu, tidak ada satupun tenaga kesehatan disana. Kita tidak bisa membayangkan nasib warga disana pak, “imbuhnya.

Sementara dibidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, jika melihat hasil produksi yang dihasilkan para petani, sangat berbanding terbalik dengan nilai rupiah yang didapatkan.

Kondisi tersebut terjadi akibat keterbatasan kemampuan masyarakat, dan cenderung nekad berhubungan para pelaku tengkulak, dan rentenir.

“Kalau Desa Saya itu pak, sangat terkenal sebagai penghasil Kemiri, Lada, Damar, dan Rotan. Saat ini kami sedang ekspansi pemberdayaan pada budidaya Nilam. Kami saat ini sangat terkendala sarana produksi, mesin pemecah Kemiri dan smelter Nilam, “ungkap Sinton.

Menanggapi hal tersebut, Direktur LSM Jaringan Advokai Masyarakat Pesisir Indonesia (JARI INDONESIA), Andi Samsu Alam, saat dimintai tanggapannya, menyayangkan kondisi daerah yang hinnga saat ini belum tersentuh maksimal program Nawacita.

Selain itu, terkait kondisi sosil didaerah itu, Andi Samsu Alam, mendesak Pemerintah Kabupaten, Provinsi hingga Kepada Pemerintah Pusat, segera turun tangan. (Hms/Agghacheno85)

ARTIKEL TERKAIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *