Tolak Pembangunan Gereja Katolik. Hisbullah : “Kami Ingatkan, Tolong Jangan Di Paksakan”.

Viewer : 676 Kali
Pemilik Kapal dan tanda tangan yang diduga dipalsukan pemilik koperasi Sipotuo Bone-Bone
Ketua LPI Luwu Timur

Malili, libasnews-
Isu rencana pembangunan Gereja Paroki St.Yoshep dikota Malili semakin menuai sorotan.
Setelah sejumlah tokoh agama, hingga pemerintah menolak rencana pembangunan gereja yang dinilai tidak prosedural, kini penolkan keras juga datang dari Hisbullah Riziq, salah satu tokoh pemuda Malili.
Hisbullah Riziq melalui pesan whatsappnya kepada redaksi libasnews mengaku sangat tidak terima dengan upaya panitia pembangunan gereja yang terkesan sangat memaksakan terlaksananya pembangunan gereja tersebut, walaupun telah mereka ketahui bahwa itu ilegal alias tidak memiliki izin.
Dalam pesan singkatnya, Hisbullah meminta agar semua pihak, terutama panitia pembangunan, hingga oknum pejabat yang disebut terlibat “membekingi” untuk menahan diri.
“Kami ingatkan, tolong jangan di paksakan. Jika tetap dipaksakan, jangan salahkan jika warga bertindak lebih keras,” terang Hisbullah.
Kepada oknum pejabat yang disebut terlibat, Hisbullah pun mengingatkan untuk tidak semena-mena menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk memuluskan kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
“Ingat, ini adalah pelanggaran kode etik bung. Jika anda terus memaksa, kami selaku warga juga bisa bertindak lebih.” Tegas Hisbullah mengingatkan.
Senada dengan itu, Abdullah, salah satu warga desa puncak indah juga menyayangkan upaya panitia dan oknum tertentu yang terkesan sangat memaksakan pendirian gereja yang disebutnya berada ditengah pemukiman umat Muslim.
“Ini aneh. Daerah ini adalah pusat perkantoran, sekaligus pemukiman umat muslim. Kenapa mereka justru sangat memaksa ingin mendirikan gereja disini.” ungkap Abdullah.
Menurutnya, jika ingin membangun rumah ibadah, coba lihat kondisi jema’ah didaerah tersebut.
Warga yang akrab disapa Bang Dul ini mensinyalir adanya kepentingan lain yang lebih besar dalam rencana pembangunan gereja tersebut.
Yang lebih mengherankan lagi, lanjut Bang Dul, panitia terkesan memaksakan warga untuk menanda tangani surat tersebut.
“Ada apa ini. Kenapa warga seolah dipaksa bertandatangan”. Terang Bang Dul heran. (Arsad/R1).

ARTIKEL TERKAIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *